Wed, 30 Sep 2026 Writer LSP

Dari Laboratorium ke Dunia Industri, SMK-SMTI Yogyakarta Perkuat Kompetensi Siswa melalui Sertifikasi

Yogyakarta — Kebutuhan industri terhadap tenaga kerja vokasi tidak hanya berkaitan dengan ijazah, tetapi juga kemampuan teknis yang dapat dibuktikan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan SMK-SMTI Yogyakarta menempatkan uji kompetensi dan sertifikasi sebagai bagian penting dalam proses pendidikan siswa.


Melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pihak Pertama (P1), siswa tidak hanya dinilai berdasarkan pemahaman teori, tetapi juga kemampuan menjalankan prosedur kerja dan menggunakan peralatan yang sesuai dengan standar dunia industri.


Salah satu pelaksanaannya dilakukan terhadap siswa kelas XII Program Keahlian Kimia Analisis pada 29–31 Juli 2026. Sekitar 32 siswa mengikuti rangkaian uji kompetensi selama tiga hari dengan materi yang berkaitan dengan penggunaan Gas Chromatography (GC) dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC).


Kedua instrumen tersebut merupakan peralatan yang banyak digunakan dalam laboratorium industri untuk memisahkan dan menganalisis berbagai senyawa dalam sampel. GC, misalnya, digunakan untuk menganalisis komponen yang mudah menguap, sementara HPLC digunakan untuk pemisahan dan analisis senyawa dalam sampel berbentuk cair.


Menurut Kepala LSP P1 SMK-SMTI Yogyakarta, Kurniawan Adi Kuncoro, penguasaan instrumen tersebut menjadi bagian dari kompetensi yang relevan dengan kebutuhan berbagai sektor industri.


Penggunaannya dapat ditemukan dalam industri farmasi, makanan dan minuman, kimia dasar, petrokimia, hingga sektor minyak dan gas. Dalam praktiknya, instrumen tersebut digunakan untuk menganalisis berbagai produk maupun bahan, termasuk obat-obatan seperti paracetamol dan ibuprofen serta bahan yang digunakan dalam produk parfum.


Kompetensi Dibangun Sebelum Ujian


Uji kompetensi di SMK-SMTI Yogyakarta tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang hanya dilakukan menjelang kelulusan. Kemampuan siswa dibangun secara bertahap melalui pembelajaran teori, praktik laboratorium, hingga pengalaman yang berkaitan dengan dunia kerja.


Sebelum mengikuti asesmen GC dan HPLC, siswa mendapatkan pembelajaran teori serta block practice selama kurang lebih dua minggu. Tahapan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami prinsip kerja instrumen sekaligus berlatih mengikuti prosedur yang nantinya menjadi bagian dari penilaian.


Konsep tersebut sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang menggabungkan pengetahuan dengan keterampilan praktis. Siswa tidak hanya dituntut memahami bagaimana sebuah proses bekerja, tetapi juga mampu menjalankannya sesuai prosedur keselamatan, standar operasional, dan tuntutan kompetensi di tempat kerja.


Kesesuaian antara pembelajaran di sekolah dan kebutuhan industri juga dijaga melalui berbagai bentuk kerja sama. SMK-SMTI Yogyakarta melakukan sinkronisasi kurikulum dengan perusahaan serta melibatkan industri dalam kegiatan seperti Praktik Kerja Lapangan (PKL), magang guru, kunjungan industri, hingga proses rekrutmen lulusan.


Sekolah memiliki kerja sama dengan perusahaan dari berbagai sektor, termasuk industri farmasi, kimia, petrokimia, serta makanan dan minuman.


Beberapa perusahaan yang menjadi tujuan lulusan Kimia Analisis antara lain PT Kalbe Farma Tbk, PT Combiphar, PT Dankos Farma, dan PT Bintang Toedjoe di sektor farmasi. Sementara pada sektor makanan dan minuman terdapat PT Amerta Indah Otsuka, PT Forisa Nusapersada, PT Tirta Alam Segar, serta PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory).


Di sektor kimia dan petrokimia, lulusan juga memiliki peluang bekerja di perusahaan seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Petrokimia Gresik, PT Asahimas Chemical, serta perusahaan yang berada dalam ekosistem Pupuk Indonesia Group.


Sertifikasi sebagai Bukti Kemampuan


Kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang memiliki kompetensi terukur turut mendorong pentingnya sertifikasi profesi bagi siswa vokasi.


LSP P1 SMK-SMTI Yogyakarta telah aktif sejak 2014 dan memiliki lisensi BNSP dengan nomor BNSP-LSP-123-ID. Lembaga tersebut didukung 33 asesor kompetensi dan memiliki tiga Tempat Uji Kompetensi (TUK) dengan enam skema sertifikasi yang mencakup tiga bidang keahlian, yakni Kimia Analisis, Teknik Kimia Industri, dan Teknik Mekatronika.


Pada Program Keahlian Kimia Analisis, sertifikasi menggunakan skema KKNI Level III untuk program pendidikan empat tahun. Kompetensi diuji secara bertahap mulai kelas X hingga kelas XII.


Terdapat delapan klaster kompetensi yang harus diselesaikan siswa. Pada kelas X terdapat satu klaster, kelas XI terdiri atas empat klaster yang terbagi pada semester ganjil dan genap, sedangkan kelas XII mencakup tiga klaster.


Siswa baru memperoleh sertifikat kompetensi BNSP setelah dinyatakan kompeten pada seluruh klaster yang dipersyaratkan.


Sistem tersebut membuat hasil asesmen tetap mengacu pada kemampuan siswa. Apabila seorang siswa belum memenuhi standar pada suatu unit kompetensi, hasil tersebut tidak diubah hanya untuk memenuhi target kelulusan. Siswa tetap dapat mengikuti proses pengujian sesuai ketentuan yang berlaku dan memperoleh bukti kompetensi pada bagian yang telah dikuasainya.


Sementara itu, Program Keahlian Teknik Kimia Industri menggunakan skema okupasi, antara lain operator evaporator, operator grinding and sizing, serta operator extraction and natural-material distillation.


Untuk Teknik Mekatronika, skema yang digunakan antara lain maintenance mechanic serta maintenance control and instrumentation systems.


Berbeda dengan Kimia Analisis yang dilakukan secara bertahap, pengujian pada skema okupasi Teknik Kimia Industri dan Teknik Mekatronika dilakukan sesuai tahapan program dan dirancang agar siswa telah memiliki kompetensi yang dibutuhkan sebelum menjalani PKL.


Mendekatkan Standar Sekolah dengan Industri


Salah satu tantangan pendidikan vokasi adalah memastikan keterampilan yang diajarkan di sekolah tetap relevan dengan perkembangan teknologi di industri.


Karena itu, SMK-SMTI Yogyakarta secara berkala berkonsultasi dengan pihak industri mengenai perkembangan teknologi, metode kerja, kompetensi yang dibutuhkan, hingga karakter tenaga kerja yang diperlukan.


Hasil masukan tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran, praktik laboratorium, materi asesmen, maupun standar operasional prosedur.


Peralatan yang digunakan dalam proses pembelajaran juga diarahkan agar memiliki prinsip kerja yang sesuai dengan peralatan di industri. Perbedaan yang ditemukan umumnya berkaitan dengan merek instrumen, jenis sampel, atau prosedur spesifik yang diterapkan masing-masing perusahaan.


Sementara itu, prinsip dasar pengoperasian dan analisis tetap mengacu pada kompetensi yang sama.


Penyesuaian tersebut turut didukung oleh asesor yang memiliki pengalaman di bidang terkait. Guru yang menjadi asesor juga mendapatkan pengalaman melalui kegiatan magang atau pembelajaran di industri sehingga dapat memahami perkembangan dan kebutuhan pekerjaan secara lebih langsung.


Tidak Berhenti pada Ijazah


Bagi lulusan pendidikan vokasi, sertifikat kompetensi menjadi salah satu bukti tambahan bahwa keterampilan yang dimiliki telah dinilai berdasarkan standar tertentu.


LSP P1 SMK-SMTI Yogyakarta menggunakan standar kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dengan demikian, predikat kompeten tidak hanya didasarkan pada penilaian internal sekolah, tetapi merujuk pada unit-unit kompetensi yang digunakan dalam dunia kerja.


Tingkat kelulusan uji kompetensi di SMK-SMTI Yogyakarta tercatat berada di atas 90 persen. Sertifikasi tersebut juga semakin relevan karena sejumlah perusahaan menjadikan bukti kompetensi sebagai salah satu pertimbangan dalam proses penerimaan tenaga kerja.


Bagi siswa, proses tersebut memberikan pengalaman menghadapi asesmen yang mendekati situasi profesional. Mereka dituntut memahami teori, mengoperasikan peralatan, mengikuti prosedur, menerapkan keselamatan kerja, serta menunjukkan kemampuan sesuai standar yang ditentukan.


Pada akhirnya, pendidikan vokasi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan siswa yang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga lulusan yang memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di tempat kerja.


Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan pendidikan vokasi di lingkungan Kementerian Perindustrian yang mendorong penerapan dual system, yakni menggabungkan pembelajaran di sekolah dengan pengalaman dan kebutuhan nyata industri.


Dengan semakin dekatnya proses pembelajaran dengan dunia kerja, uji kompetensi menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan kemampuan siswa di laboratorium dengan tuntutan pekerjaan di industri.


Bagi SMK-SMTI Yogyakarta, proses tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan setiap lulusan tidak hanya membawa ijazah ketika meninggalkan sekolah, tetapi juga kompetensi yang dapat dibuktikan dan relevan dengan kebutuhan industri.

Berita Terkait
Writer 30 Sep 2026
Dari Laboratorium ke Dunia Industri, SMK-SMTI Yogyakarta Perkuat Kompetensi Siswa melalui Sertifikasi
Writer 30 Sep 2026
Beri Bekal Lulusan Kemampuan Bahasa Inggris, SMK-SMTI Yogyakarta Laksanakan TOEIC
Writer 19 Jun 2026
SMK-SMTI Yogyakarta Sertifikasi Ulang 16 Asesor, Perkuat Mutu Lulusan Siap Kerja di Industri